Huntu Art Distrik

Setelah 6 tahun berlalu
(Sekali lagi) versi PDF

Aktivitas berkesenian di Gorontalo tidak lahir dan tumbuh dari ruang vakum sejarah. Ia mengalami pasang surut, enggan padam, namun tetap dengan khasnya yang cair dan terbuka. Keinginan membuat seni rupa Gorontalo semakin terorganisir lalu muncul seturut keberadaan HARTDISK dan TUPALO di tahun 2015. Tanpa melepaskan fundamen seni rupa lokal, keduanya melibatkan konsep-konsep standar penataan atau presentasi karya seni rupa kehadapan audiens, dan mendapatkan pengetahuan mengenai tata cara mengapresiasi karya seni rupa. Gugusan jejaring kreativitas yang dibangun keduanya yang tengah berlangsung saat ini, alhasil, telah memperlihatkan secara perlahan formasi medan kepranataan seni rupa di Gorontalo.

Kehadiran HARTDISK dan TUPALO memosisikan seni rupa sebagai sebuah aktivisme dan kritik sosial. Ia hadir dengan sebuah kesadaran bahwa realitas tidak turun dari langit (taken for granted), melainkan dibentuk seturut relasi-kuasa yang mengonstruksi bagaimana realitas tersebut terinstitusionalisasi, namun cenderung diterima oleh publik begitu saja tanpa skeptisisme. Di titik itulah, seni rupa yang coba disuguhkan selama ini oleh HARTDISK dan TUPALO menjadi semacam refleksi dan kritik-otokritik atas keadaan riil tanpa tedeng aling-aling. Sebab hanya dengan keduanya, perlawanan senantiasa muncul dan tetap terpelihara.

Maa Ledungga menjadi tema yang diangkat untuk membingkai Pesta Seni Pasca Panen Padi kali ini. Maa Ledungga adalah bahasa Gorontalo yang dapat diterjemahkan sebagai “Sudah Datang” atau “Telah Tiba” hal tersebut merujuk ke datangnya musim panen padi yang selalu ditunggu para petani dalam kurun waktu 3–4 bulan lamanya.

Katalog PDF Maa Ledungga #1 berisi dokumentasi gelaran Pesta Seni Pasca Panen Padi tahun 2018 dan transkrip wawancara perupa, penampil, partisipan, penggerak, dan warga yang turut berpartisipasi dalam gelaran tersebut.

Nantikanlah . . . !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *