Skip to main content

Huntu Art Distrik

Buku ini berisi bulir-bulir beras yang disosoh dari peristiwa-peristiwa seni rupa di Gorontalo. Ia bermuasal dari padi yang ditanam, disemai, dan dirawat dengan solidaritas. Lalu rontok dan kering oleh waktu. Digiling dinamika. Dan terkelupas menjadi kumpulan-kumpulan esai siap santap.

“Rupa-Rupa” untuk judul buku ini menjadi relevan. Reduplikasi ini bisa bermakna “macam-macam”. Di Gorontalo, kata ini punya asosiasi positif dan negatif. Ia bisa jadi pernyataan kekaguman atas seseorang yang sangat kreatif, di luar kotak kebiasaan. Taruh kata, orang itu mahir sekali membuat dan memodifikasi layangan, perahu atau becak motor hingga bisa menarik perhatian. Maka terlontarlah kata “Rupa-rupa daa pohutu liyo ju” (macam-macam sekali yang bisa dia lakukan).

Ia menjadi negatif untuk menasehati atau mengingatkan seseorang untuk kembali patuh saat yang melakukan hal hal di luar norma sosial. Maka terlontarlah “Ja po hutu rupa-rupa” (tidak usah berbuat macam macam). Pendeknya, “rupa-rupa” mengandung semangat kata kerja yang merujuk pada tindakan atau aktivitas di luar kebiasaan.

Dalam konteks ini, rupa-rupa dapat ditafsir ulang sebagai tindakan kreatif yang berdaya ganggu dan berdaya gugah.

Nantikanlah…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *